"Bangkit dan Bersinarlah (Yes 60:1)"

Rabu, 22 April 2015

MENGEMBALIKAN PERSEPULUHAN
Maleakhi 3:6-12
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, APAKAH Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” (Maleakhi 3:10)

BEBERAPA HAL YANG PERLU KITA KETAHUI TENTANG PERSEPULUHAN:
I.          MENGAPA HARUS MENGEMBALIKAN PERSEPULUHAN?
-       KARENA PERSEPULUHAN ADALAH BAGIAN TUHAN
Kalau persepuluhan adalah bagian Tuhan baiklah kita mengembalikan dan menyerahkan kepada Dia apa yang menjadi bagian-Nya dengan benar. Semua berkat yang ada pada kita termasuk hidup kita adalah milik Tuhan.
“Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.” (Mazmur 50:12)
“Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.” (Mazmur 89:12)
“Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mazmur 100:3) (Bnd. 1 Tawarikh 29:11-12 dan 1 Kor 6:19-20).

Selasa, 21 April 2015

Minggu, 19 April 2015

KETIDAKPERCAYAAN AKAN MEMBUAHKAN KEGAGALAN
IBRANI 3:16-19
“Siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukannkah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.” (Ibrani 3:16-19)

Kadang-kadang seseorang tidak berhasil dan tidak mengalami kemenangan bukan karena Tuhan tidak menyediakan kesuksesan dan kemenangan, tapi lebih kepada ketidak percayaan manusia akan apa yang telah Tuhan perbuat dan sediakan bagi dirinya. Nah, berikut ini kita akan belajar,
MENGAPA KETIDAKPERCAYAAN MEMBUAHKAN KEGAGALAN?

Sabtu, 18 April 2015

Minggu, 12 April 2014
IMAN MENDATANGKAN KEMENANGAN
Ibrani 11:1 dan 6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, Ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia.” (Ibrani 11:6)

Mengapa iman menjadi sesuatu yang mendatangkan kemenangan dalam hidup kita? Karena firman Tuhan berkata, hanya imanlah yang memungkinkan kita berkenan kepada Tuhan. Di dalam Roma 14;23b, melalui Rasul Paulus Roh Kudus berbicara kepada kita “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa.” Artinya, ketika seseorang melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak didasarkan pada iman adalah dosa.
Perlu diingat dan selalu disadari bahwa perkenanan Tuhanlah yang membuat kita sanggup meraih dan mengalami kemenangan-kemenangan tersebut. Dan untuk mendapatkan perkenanan itu, Alkitab berkata, kita harus memiliki “Iman”.
Apa yang dimaksud dengan iman?
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)
Dalam pengertian sederhana, iman diartikan sebagai “Respons positif kita terhadap segala sesuatu yang Tuhan sudah perbuat (dan bukan yang akan Tuhan) sediakan untuk kita.”

SEPERTI APAKAH IMAN YANG MENDATANGKAN KEMENANGAN TERSEBUT?
1.       IMAN YANG MEMPERCAYAI BAHWA ALLAH ADA
“Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, Ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia.” (Ibrani 11:6b)
Pengakuan dan pernyataan bahwa Allah ada, seharusnya disertai dengan keyakinan yang kuat dari dalam hati dan tindakan yang benar yang menunjukkan bahwa Tuhan itu ada dan hidup. Pengakuan saja dengan mulut tidak cukup.
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Roma 10:10)
Kitab Yakobus berkata “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:17)
Sangat jelas bahwa ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mempercayai keberadaan Allah.

2.       IMAN YANG MEMPERCAYAI BAHWA ALLAH TELAH MENYEDIAKAN SEGALA SESUATU YANG KITA BUTUHKAN.
Mengapa Roh Kudus mengatakan “Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa?” (bnd. Roma 14:23b) Karena Dia sudah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Dan Dia mau kita mempercayai hal tersebut dengan sungguh-sungguh.
Kejadian 1:31; 2:1-3 berkata:
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (ayat 31)
“Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.” (ayat 1-2)
“Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.” (ayat 3) Bnd. Keluaran 20:8-11.
Iman yang benar dan memberi kemenangan itu adalah mempercayai dan meresponi dengan positif apa yang sudah Tuhan kerjakan dan sediakan bagi kita.
Apa saja yang Tuhan sediakan bagi kita? Semua yang kita butuhkan!
Pengampunan? (1 Yohanes 2:2), Keselamatan? (Yohanes 3:16), Kesembuhan? (Yesaya 53:5; 1 Petrus 2:24), Kemenangan? (Ibrani 2:8; 1 Korintus 15:27; Roma 8:37), Berkat dan Kesuksesan? (Yeremia 29:11; Yohanes 10:10; 2 Korintus 8:9; Efesus 1:3), Urapan dan Kuasa? (2 Korintus 1:21; Yohanes 1:12) dll...
Yang sering menjadi persoalan adalah adakah iman di hati kita untuk menerima dan mengalami semua itu? Percayakah kita bahwa hal-hal yang kita sebut di atas  sudah diberikan bagi kita? Diperlukan iman untuk menerimanya. (Ilustrasi: Pemancar signal TV dan reciver).

3.       IMAN YANG MEMPERCAYAI BAHWA ALLAH MEMBERI UPAH KEPADA ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENCARI DIA.
“Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, Ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia.” (Ibrani 11:6)
Alasan kebanyakan orang tidak mau sungguh-sungguh mencari dan melayani Tuhan adalah ketidakmengertian bahwa ada upah di balik kesungguhan mencari dan melayani Tuhan. Mereka berpikir bahwa mencari dan melayani Tuhan itu hal yang sia-sia. Mereka tidak mengerti bahwa akan ada sebuah perbedaan dalam menerima upah antara orang yang sungguh-sungguh mencari dan melayani Tuhan dibanding mereka yang berleha-leha atau bermalas-malasan mencari dan melayani Tuhan. Tuhan sendiri tidak pernah membuat perbedaan tersebut, sikap seseoranglah yang menyebabkan perbedaan itu terjadi.

Itu sebabnya mari sungguh-sungguh mempercayai Tuhan, bahwa Dia benar-benar ada, telah menyadiakan bahkan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan dan mempercayai bahwa Dia memberikan upah kepada mereka yang bersungguh hati mencari dan melayani-Nya. Maka perhatikanlah, kemenangan dan mujizat-mujizat besar pasti terjadi. Selamat mengalami, Tuhan Yesus Memberkati!

By: Ps. Sondang S, S.Th
Minggu, 05 April 2014
TETAP BERIBADAH KEPADA TUHAN
YOSUA 24:15
”Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)
Menghadapi situasi-situasi sulit ini Tuhan Yesus pernah berkata:
“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:12). Artinya, kebanyakan orang akan mengalami degradasi iman dan kasih kepada Tuhan dan sesama sampai-sampai mereka tidak tertarik lagi beribadah kepada Tuhan. Namun berbeda dengan Yosua, di tengah-tengah bangsa yang tegar tengkuk dan keras kepala dia membuat komitmen untuk tetap beribadah kepada Tuhan.

MENGAPA YOSUA DAN KELUARGANYA BERKOMITMEN UNTUK TETAP BERIBADAH KEPADA TUHAN?
1.   KARENA DIA TAHU HANYA TUHANLAH YANG SETIA MENEPATI JANJI
“Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” (Yosua 21:45)
Yosua adalah salah seorang dari dua generasi Mesir yang berhasil masuk ke tanah kanaan yaitu tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya. Yosua juga tahu tentang janji-janji baik yang Tuhan berikan kepada Musa ketika mereka masih berada di tanah Mesir. Sekarang, Yosua sudah sampai dan sedang berada di tanah perjanjian. Dia melihat dan merasakan sendiri bukti dari janji-janji yang digenapi Tuhan terhadap bangsa itu. Mereka memang diperhadapkan dengan banyak proses, namun Tuhan tidak pernah lupa dan tetap ingat akan janji-Nya. Pengalaman inilah salah satu alasan mengapa Yosua tetap bisa mengambil komitmen untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Di tengah-tengah bangsa yang mudah dan gampang terpengaruh oleh hiruk-pikuk kehidupan, dia tetap bisa membuat sebuah keputusan untuk tetap beribadah kepada Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Disaat situasi-situasi sulit menghadang kita, apakah kita masih bisa berkata seperti Yosua berkata Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Kita perlu belajar kepada tokoh yang gigih dan hebat ini. Hidupnya bukan tanpa persoalan atau masalah. Sebaliknya dia sedang berada di tengah-tengah orang keras kepala namun kecintaanya kepada Tuhan tak tergoyahkan. Haleluya!

2.   KARENA DIA TAHU HANYA DI DALAM TUHAN ADA KEMENANGAN SEJATI
“Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya,” (Yosua 8:1)
Kalau kita perhatikan dengan seksama di kitab Yosua pasal 7, penduduk kota Ai ini pernah mengalahkan pasukan Yosua yang sebenarnya adalah kota yang jauh lebih kecil dari kota Yerikho yang berhasil diruntuhkan oleh pasukan Yosua juga. Mengapa demikian? Jawabnya sangat sederhana, karena Tuhan tidak ada dan tidak terlibat dalam peperangan tersebut.
Berangkat dari pengalaman mengalahkan penduduk kota Yerikho, pasukan Yosua sangat yakin bahwa mereka akan dapat/mampu menumpas dan mengalahkan penduduk kota Ai yang jauh lebih kecil dari kota Yerikho. Namun kenyataan tidak seperti yang mereka pikirkan karena mereka lari kocar-kacir meninggalkan penduduk kota Ai (bnd. Psl 7:4). Sekali lagi alasannya adalah karena Tuhan tidak ada dan tidak terlibat dalam peperangan tersebut. Mengapa Tuhan tidak ada di sana? Alkitab berkata karena bangsa Israel berubah setia kepada Tuhan. Mereka mengingkari perjanjian dengan Tuhan. Mereka mencemari kekudusan Tuhan (bnd. Ps 7:10-12) dan sebagai akibatnya, mereka “KALAH”.
Pengalaman inilah yang membuat Yosua mengerti bahwa kemenangan sejati hanya dapat diraih bersama dengan Tuhan. Pasukan yang besar, kekuatan yang besar dan strategi yang hebat tidak menjamin kemenangan kita tanpa Tuhan ada di dalamnya. Atas dasar ini Yosua membuat komitmennya bahwa dia dan seisi rumahnya akan tetap beribadah kepada Tuhan. Bagaimana dengan saudara?...

3.   KARENA HANYA DI DALAM TUHAN ADA KESELAMATAN
“Apabila kamu meninggalkan Tuhan dan berbalik kepada Allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.” (Yosua 24:20).
Melalui pesan ini kita melihat bahwa Yosua sangat menyadari sesungguhnya seseorang dapat diselamatkan ketika orang tersebut ada di dalam Tuhan. Di luar Tuhan, seseorang akan binasa. Dan inilah alasan yang ke-tiga mengapa Yosua dapat membuat komitmen yang kuat untuk tetap beribadah kepada Tuhan.
Ungkapan yang sama disampaikan oleh Roh Kudus melalui Rasul Petrus di dalam Kisah Para Rasul pasal 4.
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Rasuk 4:12) 

Itu sebabnya mari miliki komitmen yang kuat dalam hidup kita untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Di dalam Tuhan kita akan mengalami janji-janji-Nya, kita akan mengalami kemenangan sejati dan kita pasti diselamatkan. Selamat beribadah kepada Tuhan, Tuhan Yesus Memberkati!

By: Ps. Sondang S, S.Th

Senin, 20 Januari 2014

MEMILIH UNTUK BERPIKIR POSITIF
Kejadian 50:20; Filipi 4:8

“Memang  kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)

“Jadi Akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

Firman Tuhan yang kita pelajari hari ini membahas tentang salah satu tokoh yang luar biasa yang dicatat dalam Alkitab, yaitu Yusuf.  Kisah Yusuf merupakan kisah yang luar biasa bagaimana TUHAN sanggup mengubahkan hal-hal yang negatif dalam hidupnya menjadi positif. Yusuf mengalami banyak sekali hal buruk dalam hidupnya: dijual sebagai budak oleh kakak-kakaknya sendiri, hidup sebagai orang asing di Mesir, difitnah oleh istri Potifar, dijebloskan dalam penjara tanpa pengadilan dan dilupakan jasanya oleh Juru Minum Firaun.  Tetapi pada akhirnya TUHAN mengangkat dia menjadi Raja Muda (semacam Perdana Menteri) atas seluruh tanah Mesir.  Bahkan pemulihan dan rekonsiliasi antara Yusuf dan saudara-saudaranya pun terjadi.

Dalam hal ini Yusuf tampil dengan gemilang karena karakternya yang luarbiasa, yaitu mampu menghadapi hal-hal yang negatif dengan memberikan reaksi yang positif.  Tentu ini bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena Yusuf memilih untuk hidup dalam tuntunan Roh Kudus, yaitu hidup dalam hikmat, pernyataan dan janji-janji TUHAN.  Banyak orang justru ketika berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang negatif reaksinya sangat negatif: ada yang ingin membalas balik, ada yang memaki-maki, ada juga yang terpuruk dalam kesedihan dan kedagingan, "curhat" di internet, galau dan sebagainya.  Banyak orang ketika diperhadapkan pada hal negatif bereaksi dengan pemahaman dan kemampuannya sendiri sehingga tidak mampu mengambil respon yang positif.  Sebaliknya, orang-orang yang hidup oleh Roh, mereka mampu memberi respon positif terhadap hal-hal negatif apapun.

Perhatihan, saat kita memberikan reaksi positif terhadap pencobaan-pencobaan, tantangan dan hal-hal yang negatif, maka kita akan bisa:

1.  Memuliakan TUHAN.
Hanya orang yang dipimpin oleh ROH yang dapat tetap bersukacita dalam keadaan susah, karena mereka sadar bahwa semua keadaan itu masih dalam kendali dan rencana ALLAH dalam hidup mereka.  Kita pun akan mengucap syukur dan memuliakan TUHAN bila kita menyadari hal ini.  Yusuf menyadari bahwa segala liku-liku yang ia hadapi adalah cara TUHAN untuk mempersiapkan dirinya menjadi Raja Muda, adalah juga cara TUHAN untuk menunjukkan kasih kepada bangsa Israel dan Mesir dengan menyelamatkan mereka dari bahaya kelaparan, adalah juga cara TUHAN menunjukkan kuasa dan kemuliaan-Nya.  Saat kita sadar bahwa ALLAH sanggup mengubah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, maka kita dapat memberi reaksi positif terhadap keadaan negatif dan dengan demikian kita makin memuliakan ALLAH.

2.  Mendapatkan Peluang-peluang.
Yusuf selalu memberi reaksi positif terhadap segala hal, sehingga peluang-peluang selalu terbuka baginya.  Bagaimana dengan kita?  Orang yang bereaksi negatif sangat mudah menjadi patah semangat dan tidak bergairah lagi untuk melakukan segala sesuatu.  Hati-hati dengan sikap negative thinking!  Pemikiran dan reaksi negatif tidak akan membuka peluang-peluang baru dalam hidupmu, karena engkau akan cenderung skeptis akan segala sesuatu.  Tetapi saat kita positive thinking dalam arti percaya bahwa kasih, janji dan penyertaan TUHAN jauh lebih besar/baik dalam masalah-masalah kita, justru TUHAN akan membuka peluang-peluang yang lebih baik lagi untuk kita.  Respon kitalah yang akan menentukan langkah/peluang kita kedepannya.

3. Bertumbuh dan Berkembang Menjadi Semakin Dewasa.
Semakin kita memberi reaksi positif terhadap kejadian-kejadian negatif, maka semakin bertumbuh dan berkembanglah kedewasaan jiwa dan rohani kita.  Perhatikan Yusuf: kedewasaannya terbukti dari kata-kata dan tindakan-tindakannya.  Yusuf tidak memaki-maki saudara-saudara, ia tidak balas dendam baik kepada saudara-saudaranya, mantan majikannya (Potifar) atau Juru minum Firaun.  Sama sekali tidak.  Dari perkataan dan tindaklakunya Yusuf menunjukkan tingkat kedewasaan yang tinggi, melebihi siapapun.  Ia pun tidak sombong, tetapi ia mengembalikan segala kemuliaan kepada TUHAN.  Hanya orang yang mau dituntun oleh Roh yang dapat memberi respon positif terhadap perkara-perkara negatif dalam hidupnya.  Orang yang demikian akan terus bertumbuh dan berkembang kian lama kian dewasa sehingga dapat dipergunakan TUHAN untuk menjadi berkat bagi banyak orang (baca juga Mazmur 105:16-22).

4.  Semakin Siap untuk Memimpin dan Melakukan Terobosan.
Pada akhirnya respon positif yang tertinggi yang seseorang dapat berikan adalah berpikir dan bertindak atas dasar iman.  Percaya penuh pada TUHAN walaupun mungkin tidak sepenuhnya mengerti.  Yusuf melakukannya sehingga ia akhirnya siap secara mental dan rohani untuk memimpin dua bangsa (Israel dan Mesir) dan melakukan terobosan-terobosan yang dunia belum pernah lihat sebelumnya.  Jika kita memutuskan untuk selalu hidup dalam Roh, kita akan mampu untuk bertindak dengan iman dan mampu memandang positif kejadian-kejadian negatif, sehingga kita siap untuk menerima tugas apapun yang TUHAN berikan dan melakukan terobosan-terobosan bagi kemuliaan nama-Nya.
By. Ps. Sondang S

Jumat, 11 Januari 2013


BELAJAR DARI NYANYIAN PUJIAN MARIA
Lukas 1:46-55

“Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namaNya adalah kudus.” (Lukas 1:46-49)

Kitab Ayub pasal 7:1 berkata “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” Artinya bahwa selama manusia masih ada di dunia ini, manusia tidak lepas dari pergumulan. Jenis pergumulannya pun sangat pariatif, ada yang kecil ada yang besar dan bahkan ada orang yang melihat masalahnya ibarat seonggok gunung yang sangat tinggi dan besar sehingga nyaris tak teratasi. Tidak sedikit orang yang menjadi stres karena masalah hidup. Mereka putusasa, hilang pengharapan dan akhirnya mereka tidak menghasilkan apa-apa. Namun sangat berbeda dengan Maria (ibu Yesus), di tengah-tengah situasi yang sangat sulit sekalipun, dia tetap bisa bernyanyi dan memuji Tuhan. Luar biasa!
Sehubungan dengan itu ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dari sikap Maria ketika kita sedang diperhadapkan dengan situasi-situasi sulit:

BELAJAR MENGALAHKAN PENCOBAAN
1 Yohanes 2:15-17

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedanglenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:15-17)

Apa larangan Tuhan buat anak-anak-Nya? Apakah akibatnya bila anak-anak-Nya melanggar larangan tersebut?
Semua dosa dan kejahatan berasal dari 3 dorongan yang ada di dalam hidup manusia. Ketiga dorongan tersebut adalah: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Lalu dari manakah datangnya ketiga dorongan tersebut? Ayat 15 mengatakan bahwa jika kita memiliki ketiga dorongan tersebut maka kasih BAPA (Agape) tidak ada atau belum bekerja dengan sempurna di dalam kita.